RESENSI NOVEL " PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN "
Judul Buku : PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN
Pengarang : ABIDAH EL KHALIEQY
Penerbit : Arti Bumi Intaran
Tahun Pertama Terbit : 2009
SINOPSIS
Novel ini bisa dikategorikan karya religious yang cerdas mendobrak kebiasaan-kebiasaan
yang membuat posisi wanita menjadi minor. Tokoh utama novel ini bernama Annisa. Ia lahir dan tumbuh di kalangan pesantren yang memegang adat keagamaan secara kokoh .Namun seiring perkembangan nya, Annisa mulai merasakan adanya perlakuan yang ganjil bagi dirinya .Ia merasa haknya dikecikan jika dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Annisa tak diijinkan berbicara berlatih menunggang kuda seperti saudara laki-lakinya ,ia tak diijinkan berbicara dan mengemukakan pendapatnya, ia harus diam saat di meja makan , ia tak boleh terlambat bangun dan harus rajin serta masih banyak lagi perlakuan berbeda yang diterima oleh Annisa dari orang tuanya sendiri yang merupakan kiyai terhormat di pesantren.
Annisa sudah lama menyampaikan protesnya akan tetapi tak ada yang mau mendegarkannya. Satu-satunya yang mendukungnya bernama Khudori. Ia sebenarnya masih kerabat Annisa. Namun benih cinta diantara mereka tak bisa disembunyikan. Hanya saja, berjalannya waktu, Khudori akhirnya harus terpisah dari Annisa seba ia melanjutkan pendidikan nya di Cairo Mesir . Tinggalah Annisa sendiri di lingkungan pesantren .Namun hubungan mereka masih berlanjut lewat surat-surat. Setelah Annisa lulus dari sekolah Dasar , ia kemudian di jodohkan dengan seorang anak kiyai terpandang bernama Samsyuddin. Annisa tak setuju atas pernikahan tersebut tapi ia tak kuasa menolak . Pada akhirnya ia tak bahagia dengan pernikahan itu sebab selain tanpa cinta ,Samsyuddin juga bukan pribadi yang menyenangkan. Ia kasar dan sering menyiksa Annisa bahkan saat berhubungan intim sekalipun. Perlakuan iu berlanjut hingga suatu waktu datang seorang wanita yang tengah hamil tua mengaku anak dalam perutnya adalah keturunan Samsyuddin. Annisa kemudian rela di poligami.
Annisa sebagai istri pertama menjalin hubungan yang baik dengan istri kedua suaminya. Mereka bahkan tak segan berbagi .Namun, kembalinya Khudori ke Indonesia membuat Annisa berani menceritakan semua kekejaman Samsyuddin terhadapnya. Akhirnya , ia memilih bercerai . Rasa cinta Annisa dan khudori tidak bisa disembunyikan .Hanya saja keduanya terganjal restu. Akhirnya mereka memutuskan hidup masing-masing sambil menunggu restu juga masa iddah Annisa habis. Annisa melanjutkan kuliah di yogyakarta sementara Khudori sibuk bekerja. Singkat cerita, Khudori akhirnya meminang Annisa dan menikah atas persetujuan keluarganya. Mereka hidup bahagia dan di karuniai anak bernama Mahbub. Namun suatu waktu di sebuah pesta pasangan ini bertemu Samsyuddin yang masih menaruh dendam . Hingga pada akhirnya Khudori dikabarkan meninggal akibat kecelakaan . Annisa meyakini kematian suaminya disebabkan oleh Samsyuddin . Tapi ia tak punya bukti yang cukup. Ia akhirnya memilih ikhlas dan hidup bersama anaknya.
Pesan moral
Kita tidak boleh membeda beda kan antar laki-laki dan perempuan karena pada hakikat nya semua manusia sama yang membedakan adalah akhlak nya.wanita juga mempunyai hak untuk melakukan hal yang di lakukan kaum pria asalkan itu adalah perbuatan yang positif. Contoh nya berkuda,dan mrngemukakan pendapat asalkan pendapat nya adalah positif. Dalam era sekarang wanita juga berhak mendapatkan pendidikan setinggi-tinggi nya agar bisa menjadi madrash bagi keturunan nya kelak dan hidup mandiri.
Unsur Ekstrinsik
Tema : Pembebasan seorang akhwat dari tradisi pesantren dan keluarga
Latar : Jawa
Waktu : Dini hari ,pagi, siang, sore, senja , malam
Suasana : sedih ,bahagia, senang, tegang
Alur : Maju - Mundur
Penokohan : Tokoh utama : Annisa Nuhaiyyah , Lek Khudori
Tokoh Pembantu:Rizal, Wildan, Aisyah, Ayah nisa ,ibu Hajjah Mutmainnah
Tokoh Figuran:Pak guru, Maemunah, Pak Tasmin , Fadillah, Lek Mahmud
Protagonis:Nisa, Aisyah , Pak Tasmin , Lek Khudori
penengah:Rizal, Wildan
Antagonis:Ayah Nisa, Syamsuddin
Kelebihan :
Novel ini adalah keberanian pengarang mengambil latar belakang pondok pesantren yang sarat dengan aturan.Apalagi pengarang seorang wanita .Satu hal lagi teknik penceritaannya sangat runtut sehinnga bagi pembaca pemula pun akan mampu unyuk mengikuti ceritanya.
kekurangan :
Hanya sangat disayangkan novel ini terlalu liberalisme mulai dari perwatakan tokoh utama yang selalu menghindari kegiatan keagamaan lebih cenderung belajar sendiri atau perwatakan tokoh condong. sementara tokoh lain Syamsuddin lebih menonjolkan sifat kebarat-baratan .Kontroversi yang seharusnya tokoh utama mengubah Syamsuddin tak mampu. Ini dikarenakan dalam penggarapan perwatakan sebetulnya sama mengadobsi barat yaitu individualisme. Tokoh lain seakan diperankan sebagai orang alim pondokan terselingi penjelasan belajar ke Jerman yang notabene bukan ada kaitan langsung dengan pesantren atau dunia islam.
Referensi :
http://teatertekadkaps.blogspot.co.id/2010/10/resensi-novel-perempuan-berkalung.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar